Hati-Hati Dengan Rasa Permusuhan

Di usianya yang masih di bawah 40 tahun, Andi seorang yang cukup sukses. Punya banyak pengalaman dan penghasilan tinggi. Tapi ada satu hal yang sering membuat lingkunganya mengernyitkan alis. Andi kerap kehilangan pekerjaan. Ia hanya bisa bertahan di sebuah perusahaan dalam kurun waktu yang relatif singkat. Walaupun dia akan cepat mendapatkan ganti pekerjaan, tetapi sekali lagi, ia akan kehilangan pekerjaan itu. Kalau tidak mengundurkan diri,, ya dipecat. Begitu seterusnya….

Sampai pada suatu ketika, sebelum memecatnya, perusahaan tempat Andi bekerja mengirimnya ke seorang psikolog untuk mengetahui ada apa dibalik sikap Andi yang kerap menyebalkan itu, sehingga sering mendorong pimpinan perusahaan untuk memecatnya. Dalam percakapan selama beberapa jam dengan psikolog, mencuatlah perasaan permusuhan yang amat sangat dari dalam diri Andi,., dan ini bisa terlihat dari kalimat-kalimat yang dilontarkannya…

Ketika ditanya mengapa ia sering meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja, Andi dengan cuek menjawab, “semua pimpinannya menyebalkan. Dan saya yakin Anda juga akan membencinya”…

Saat sang psikolog menanyakan komentar tentang pimpinan yang baru, Andi menjawab lantang,” manager saya tidak cukup punya kemampuan”..

Dan jawaban negatif bernada permusuhan itu terus keluar dari mulut Andi sepanjang percakapan berjam-jam dengan psikolognya.

Beberapa penelitian menunjukkan, rasa permusuhan dan marah yang tidak terkendali seperti yang terjadi pada Andi bukan tanpa sebab. Dan penyebab yang paling dirasa significan, adalah hal atau kejadian menyakitkan yang pernah dialaminya. Apapun itu. Seperti yang dituangkan dalam buku It’s Me, A Guide to Better Understanding Yourself, Michael J Gelb mengatakan, keadaan atau peristiwa menyakitkan adalah penyebab kemarahan dan permusuhan.

Keadaan menyakitkan ini bisa berupa pengalaman “diasingkan” lingkungan dan keluarga, kecemburuan terhadap kesuksesan saudara atau rekan, tekanan tinggi saat masa kanak-kanak dan remaja oleh orang tua. Yang jelas, peristiwa masa lalu yang membuatnya merasa tersiksa dan sakit hati.

Rasa sakit ini terus mengendap dalam diri mereka. Dan jika tidak bisa terlupakan atau tersalurkan secara positif, malah akan meledak sewaktu-waktu dalam bentuk kemarahan dan permusuhan terhadap orang-orang di sekitarnya. Baik lingkungan keluarga, pertemanan atau pekerjaan seperti yang dialami Andi.

Lantas apa yang harus dilakukan jika kita memiliki masalah psikologis seperti itu? Jawabannya sederhana. Belajar kendalikan emosi dan kemarahan, selain belajar menerima kenyataan pahit kita di masa lalu sebagai bagian dari perjalanan hidup kita, dan bukan sebagai sesuatu yang senantiasa akan membebani hidup jiwa kita. Bukan hal yang mudah memang, tapi memulainya semenjak dini akan menjadi penyelamat bagi ketengan jiwa kita di masa kini dan akan dating.

Apakah Anda Termasuk Manusia Super?

Coba anda ikuti tes supermanitis ini..

  1. Loose controll sesuatu yang memalukan dan tidak termaafkan.
  2. Sakit hati ketika melihat rekan tampil lebih keren dengan pakaian lebih mentereng.
  3. I wish everybody like me.
  4. Saya tidak suka ada orang yang menyebut nama album kaset/musik yang belum saya tahu.
  5. Feel guilty saat tidak mengenal “kata-kata baru” dari orang lain.
  6. I am best worker
  7. Saya tidak nyaman melihat rekan atau kerabat memiliki rumah atau mobil baru.
  8. Feel confuse kalau orang tidak menyetujui omongan/pendapat saya.
  9. Merasa bersalah ketika tidak suka dengan tindakan/sikap atasan, teman atau keluarga dekat.
  10. Merasa malu dan bersalah saat orang lain mengetahui kebenaran tentang diri saya.
  11. Saya sangat yakin menyayangi orang tua saya dengan sangat iklas.
  12. Saya tidak akan pernah mau menjadi bawahan kenalan saya.
  13. Saya akan berusaha menjadi orang paling sukses di lingkungan saya.
  14. Tidak nyaman saat ada kenalan lebih pintar berkomunikasi disbanding saya.
  15. Saya bisa masuk ke dalam kelompok lain selain kelompok teman-teman saya.
  16. Saya ingin menjadi orang yang pintar bercerita di hadapan anak-anak.
  17. Saya selalu ingin menang dalam permainan apapun.
  18. Saya akan berusaha agar rumah saya paling indah di lingkungan saya.
  19. Saya harus menjadi pimpinan di lingkungan saya.
  20. Kepuasan terbesar jika bisa mendapatkan dan melakukan apa yang kita inginkan..

Jika sebagian besar pertanyaan tersebut anda jawab “YA”, berarti anda cenderung merasa menjadi manusia super, atau memiliki prilaku supermania. Hati-hati, tidak ada satu manusiapun yang sempurna. Kesalahan manusiawi dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja.

 

Self Control

Salah satu kunci ketenangan jiwa dalam berkehidupan seseorang, adalah kemampuan orang tersebut dalam mengendalikan dirinya terhadap segala aspek kehidupan yang dijalaninya. Sebagaimana Dr. Wayne Dyer pernah mengatakan bahwa anda tidak bisa memiliki damai bathin selama pengendalian kehidupan anda ditempatkan di luar diri.

Sebuah contoh nyata dalam lingkungan kehidupan ini, bahwa begitu banyak orang-orang yang dililit utang yang membuatnya merasa tidak tenang. Tapi pada hakekatnya, seringkali lilitan utang tersebut hanya sebuah efek akhir dari ketidakmampuan mengendalikan diri sendiri. Sungguh jarang orang yang menderita terlilit utang diakibatkan sebuah keterpaksaan dalam memenuhi kebutuhan yang paling mendasarnya. Ini bisa menjadi sebuah renungan, bahwa sebetulnya penderitaan itu sendiri sesungguhnya diakibatkan oleh kelalaian dalam mengendalikan diri.

Dalam dunia kerja pun tidak berbeda jauh. Sepanjang seseorang disiplin menjalani aktifitas pekerjaan dengan dilandasi oleh pengendalian diri, niscaya sedikit demi sedikit masalah yang dihadapi akan bisa diselesaikan. Lain halnya kalau sifat pengendalian diri itu tidak ada, sehingga memaksakan diri menyimpang dari rel yang sebenarnya dengan iming-iming meraih keberuntungan atau mendapatkan jalan pintas untuk menyelesaikan permasalahan secara instant. Mengesampingkan sifat pengendalian diri sembari menggantungkan nasib pada ujung sebuah anak panah. Hasilnya bisa mujur, tapi kemungkinan terbesar penyesalan tiada akhir yang akan datang menjenguk.

Pada dasarnya, definisi kehidupan yang tidak bahagia adalah kehidupan di mana kita merasa segala hal tidak dapat dikendalikan. Perasaan tidak berdaya ini secara emosional dan fisik sangat melelahkan. Perasaan itu menguras energi yang kita butuhkan agar produktif dan menikmati hari-hari dalam kehidupan kita. Kalau kita bisa mengendalikan kehidupan, kita merasa penuh semangat dan memiliki pandangan yang positif terhadap masa depan. Sebaliknya, kalau kita merasa tidak dapat mengendalikan kehidupan, kita menjadi frustrasi, lelah, dan pesimistis. Hal ini akan membentuk lingkaran setan, yang akan menggiring kehidupan itu semakin hari semakin menuju dasar kehancuran dalam berkehidupan.

Dalam segala elemen kehidupan, kita lebih mengenal kata-kata disiplin“. Disiplin adalah kunci sebuah kesuksesan dalam segala hal. Dan disiplin itu sendirilah kata lain dari pengendalian diri. Dengan kata lain, tidak akan disiplin tanpa pengendalian diri itu sendiri. Tanpa disiplin internal, kita tidak akan mampu mengendalikan kebiasaan setiap hari, apalagi secara proaktif mengarahkan kehidupan sendiri.

Scott MacMillan dalam bukunya the Big Game“, memaparkan manfaat-manfaat berdisplin
1. Bisa melaksanakan apa yang direncanakan
2. Bisa bergerak maju, walau dalam keadaan lelah sekalipun
3. Tidak akan membiarkan kegagalan kecil menjadi kegagalan besar
4. Sarana untuk mencapai sasaran yang ada dalam diri sendiri
5. Bisa menciptakan dan mempertahankan kebiasaan positif

Itulah pengendalian diri, yang mau tak mau harus dijalani demi memampukan diri mengendalikan kehidupan ini. Bahkan, kunci kelancaran segala aktifitas kehidupan, adalah kemampuan mengendalikan diri itu sendiri

 

Effective And Constructive Thinking

Guna meningkatkan pengembangan diri yang lebih maksimal, kita tidak hanya dituntut terbiasa berpikir dan bertindak positif, tetapi juga konstruktif. Berpikir konstruktif, adalah membangun kesadaran yang bersifat membina, membangun dan memperbaiki, sehingga kita tidak tenggelam dalam situasi pesimis dan ketakutan yang beralasan.Bila kita sudah terbiasa berpikir positif, jangan sampai berhenti sampai di sini. Hendaknya kita terbiasa pula berpikir konstruktif, agar kita tidak kembali terbelenggu dalam kegagalan dan kesalahan yang sama. Caranya dengan melakukan tindakan nyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik atau terbaik yang bisa kita lakukan.

Lantas apas yang dimaksud dengan berpikir efektif? Berpikir efektif berarti cara pandang seseorang untuk mencapai suaru tujuan melalui skill yang dimilikinya. Seseorang tidak hanya berpikir sampai pada berpikir konstruktif atau membangun, tetapi ia juga harus memiliki point of view yang jelas mengarah pada pencapaian tujuan dengan pemikiran yang praktis dan sistematis.

Dengan kata lain, untuk bisa berkarya dengan baik, kita hendaknya senantiasa memiliki goal setting dalam melakukan tugas atau aktivitas. (Mengenai hal ini, lihat kembali materi goal setting).

Adanya kemampuan berpikir konstruktif, akan membantu kita terbiasa untuk memiliki pola kerja yang efisien, karena kita terbiasa memiliki goal setting untuk melakukan aktivitas , tertutama aktivitas tertentu yang membutuhkan perhatian ekstra. Sehingga waktu, tenaga, pikiran dan materi yang dikeluarkan untuk pencapaian tujuan tertentu, bisa lebih dimaksimalkan.

No

NEGATIF

POSITIF

KONSTRUKTIF

1

Pimpinan tidak menyukai saya

Saya akan bekerja maksimal sesuai kemampuan

Untuk bekerja maksimal saya akan meningkatkan kemampuan

2

Selalu gagal

Saya akan terus berusaha

Akan mencari usaha.metode lain agar tidak gagal lagi

3

Saya tidak punya pengalaman, jadi tidak punya kemampuan lebih

Kemampuan akan menutup pengalaman yang minim

Belajar dari orang yang lebih berpengalaman selain meningkatkan kemampuan

Positive Thinking

Kualitas kepemimpinan seseorang sangat ditentukan oleh caranya bersikap atau memberikan respons terhadap apa yang berlangsung di sekitarnya. Sikap dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari. Hukum alam mengatakan, “Kebiasaan membentuk sikap seseorang, habits become attitude.’” Sikap adalah kesimpulan dari mata rantai kebiasaan dan pengalamannya di masa lalu. Itulah sebabnya seorang yang ingin mengembangkan potensi kepemimpinannya akan selalu memupuk berbagai kebiasaan yang positif untuk membangun tanggung jawab, ketabahan, kesabaran, serta cara memandang orang lain dengan cinta.

Napoleon Hill—pengarang buku Think and Grow Rich—mengatakan, “Pikiran manusia mampu melaksanakan apa saja yang diyakininya.” Menurutnya, pikiran mampu membayangkan keberhasilan, maka perilaku dan usaha-usaha Anda akan mengarah kepada apa yang Anda pikirkan. Your are what you think!

Pikirkanlah yang mampu mengubah hutan belantara menjadi permukiman dan memindahkan gunung-gunung dan menjadikannya bangunan istana. Dengan pikirannya, manusia mampu menempatkan dirinya lebih mulia daripada ciptaan apa pun yang ada di alam semesta ini.

Perilaku (behavior) merupakan hasil dari persenyawaan antara sikap dan cara berpikir. Orang akan berperilaku positif bila sikap dan cara berpikirnya positif. Untuk itu, sugesti diri Anda dengan cara berpikir positif, misalnya,

· Saya memiliki potensi, karena itu saya akan kerahkan semangat saya untuk menggali potensi diri.

· Saya tidak akan menyerah pada nasib karena sayalah yang akan mengubah dan menentukan nasib saya sendiri.

· Saya tidak akan goyah dengan apa yang saya yakini. Apa pun penilaian orang tentang keyakinan saya. Orang yang meragukan keyakinan saya adalah motivasi besar yang mendorong saya untuk lebih giat membuktikan keyakinan saya sehingga mencapai keberhasilan.

Buatlah daftar kalimat yang akan menyugesti diri Anda. Mulailah dengan membayangkan sesuatu yang berharga, yang akan melahirkan rasa syukur luar biasa pada diri Anda. Misalnya, Ketika Anda diterima bekerja, bayangkanlah berapa banyak teman yang seusia dengan Anda masih menganggur. Mereka tersaruk-saruk menyodorkan berkas lamaran dan gagal. Ketika Anda menerima uang gaji, bayangkanlah betapa pada waktu yang bersamaan ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang hidupnya begitu sulit karena tidak memiliki uang. Ketika Anda berangkat di pagi hari menuju kantor, bayangkanlah berapa banyak orang yang seusia dengan Anda yang pagi itu kebingungan ke mana kaki harus dilangkahkan.

Ketika Anda terpuruk dalam kemalasan, bayangkan berapa banyak orang seusia Anda yang meneteskan keringatnya di pasar, di jalanan, di kantor-kantor, serta di seluruh sudut kehidupan. Bila Anda berpikir atau merasakan suasana seperti itu—bahwa keberadaanku masih lebih baik dari orang lain, karena itu aku harus selalu bersyukur—maka Anda sedang menyugesti diri untuk berbuat lebih baik lagi. Anda sudah memiliki sikap mental positif.

Dalam buku Positive Mental Attitude, Napoleon Hill menulis, “When you say to another person, “You can!” this is suggestion. When you say to yourself, “I can!” you motivate yourself by self-suggestionBila Anda bicara pada orang lain “Kamu bisa!” Anda sedang menyugesti orang lain. Bila Anda bicara pada diri sendiri “Aku bisa!” Anda sedang menyugesti diri sendiri.

Sugesti diri merupakan alat yang paling penting untuk membangun kepercayaan diri. Anda tidak akan pernah sampai pada tujuan bila tidak yakin untuk mencapainya. Anda tidak pernah akan berbuat apa pun bila tidak ada keyakinan yang mendorong kemauan untuk melaksanakannya. Bila Anda tidak yakin dengan apa yang Anda lakukan, berhentilah! Sebab, hal itu hanya membuang waktu dan hanya akan memetik kegagalan. Karena, untuk mencapai keberhasilan dibutuhkan keyakinan dan tekad yang kuat.

Sikap positif melahirkan kepercayaan diri

Kepercayaan diri melahirkan keberanian

Keberanian melahirkan tindakan

Tindakan melahirkan hasil

Dan hasil akan menentukan nasib

Kualitas kepemimpinan akan lebih memberikan daya pengaruh bila ditunjang oleh kecakapan, keterampilan, dan kemampuan dalam menangani berbagai hal, utamanya yang berkaitan dengan hubungan dengan manusia (relationship). Itulah sebabnya, para pemimpin memiliki dorongan yang kuat untuk menjalin hubungan memperluas jaringan sosial dan terus belajar secara berkesinambungan (continuous learning). Dengan rasa kagum dan rasa ingin tahu yang mendalam, buku-buku biografi para tokoh dan para pemimpin dunia dibacanya dan dipelajari untuk kemudian dipetik hikmahnya demi memperkaya khazanah kepemimpinannya. Dia tabah dan tekun menempa diri dengan mendatangi tempat-tempat pelatihan. Dia belajar dari orang-orang sukses maupun gagal. Bahkan, dia tidak malu untuk belajar dari tukang sapu sekalipun. Dia pandang tukang sapu yang melaksanakan tugasnya dengan penuh suka cita. Apa gerangan yang menyebabkan dia begitu bahagia dengan pekerjaannya?

Dia belajar dari orang-orang tua karena dia sadar di setiap lembar rambutnya yang memutih itu ada pengalaman berharga untuk dipetik hikmahnya. Dia simak setiap butir fatwa yang mengalir dari bibirnya. Inilah cara pembelajaran seorang calon pemimpin maupun mereka yang sudah menduduki jabatan puncak. Never ending learning, ‘Tidak ada kata akhir untuk belajar’, sebagaimana Rasulullah saw. menyuruh kita untuk terus belajar sejak dari buaian sampai ke liang lahat. Sebab, dengan semangat belajar seperti ini, kualitas kepemimpinannya semakin berbobot. Bagi mereka, belajar bagaikan bensin. Semakin banyak cadangannya, semakin jauh perjalanan yang ditempuh. Akan tetapi, apalah artinya mengisi bensin bila tidak punya keberanian untuk mengendarainya. Apalah artinya belajar tanpa mau mencoba dan mempraktikkannya dalam kehidupan. Belajar dan mengalami serta teori dan praktik adalah dua sisi kehidupan yang sama pentingnya untuk merenda benang-benang keberhasilan.

Attitude = Belajar + Berlatih

Napoleon Hill menulis, “Anda akan mendapatkan apa saja dan tidak akan kehilangan apapun dengan berani mencoba. Keberhasilan hanya bisa diraih dan dipertahankan oleh mereka yang terus mencoba, You have everything to gain and nothing to lose by trying. Success is achived and maintained by those who keep trying.”

Ungkapan ini telah terbukti benar. Bukan saja dari keberhasilan para eksekutif atau pun para pemimpin informal, melainkan juga berlaku untuk para atlet unggul yang memperoleh juara disebabkan kemampuannya untuk terus-menerus mencoba, belajar, dan berlatih.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa para pemimpin yang sukses adalah mereka yang terus belajar untuk mendapatkan metode-metode baru yang kemudian dicobanya dalam kehidupan yang nyata. Mereka yang cukup puas dengan kepemimpinannya saat ini dan tidak belajar akan mengalami kesulitan-kesulitan dalam pengambilan keputusan yang benar. Dunia terus berubah. Berbagai inovasi terus ditemukan. Bila kita berhenti belajar, kita akan menjadi katak dalam tempurung.

Para manajer yang baru seringkali belajar dan berani mencoba dalam pekerjaannya yang riil tanpa mengorbankan tugas-tugas rutin mereka. Pada saat mencapai kedudukan tinggi, mereka sudah siap untuk secara mental menerapkan pengetahuan hasil pembelajarannya. Sementara para manajer yang enggan belajar dan merasa bahwa kariernya hanya ditentukan oleh tugas-tugas rutinnya, akan memperoleh kesulitan yang luar biasa pada saat mereka menerima jabatan baru yang menantang sehingga produktivitasnya menurun. Inilah yang dimaksudkan dengan Peter Principle dengan asumsinya, “Bertambah naik kedudukan seseorang bertambah menurun kemampuannya.” (Ya, tentu saja bila tidak diiringi dengan proses pembiasaan dan pembelajaran).

Jual Potensi Diri Kita !!!

Tidak dapat dipungkiri, persaingan di dunia kerja/ karir sangatlah tinggi. Hukum alam yang mengatakan hanya yang kuat yang akan bertahan, pada kenyataannya memang benar-benar terjadi dalam dunia kerja. Dan kalau kita bicara “kuat”, satu hal penting yang bisa mendongkrak kekuatan kita dalam dunia kerja, adalah pemanfaatan maksimal seluruh potensi yang ada dalam diri kita.

Berbagai survey dan riset menunjukkan, salah satu factor penentu kegagalan seseorang dalam berkarir adalah ketidakmampuan mengenali, menemukan dan memanfaatkan potensi diri. Hingga tidak berlebihan jika kalangan pebisnis dan para ahli karir mengatakan, potensi diri merupakan asset/modal besar dalam berkarir.

Bahkan dikatakan, “juallah kemampuan atau potensi diri sebagai bekal masa depan”. Karena ketahuilah, semakin dewasa usia kita, semakin besar pula tuntutan untuk hidup mandiri. Karenakita tidak bisa selamanya bergantung pada orang lain.

Lantas apa saja potensi diri itu?

  1. Potensi bakat. Semua orang dikarunia bakat. Masalahnya jenis , kuantitas, dan kualitas bakat yang dimiliki setiap orang berbeda satu sama lain. Yang perlu dilakukan adalah mengembangkannya semampu mungkin. Karena Bakat yang diperlihara dan dikembangkan dengan baik dapat mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit. Contohnya, orang yang berbakat di bidang seni suara, jika jalurnya tepat, ia bisa menjadi penyanyi handal dan hebat. Kita yang memiliki bakat melukis atau mendesign, bisa menjadi seorang designer atau pelukis professional. Kita yang memiliki bakat mengarang bisa menjadi pengarang yang hebat dengan menerbitkan cerita-cerita fiksi dalam bentuk novel, cerpen, dsb. Semua ini akan mendatangkan keuntungan materi bagi anda. Jika kita mau mengasah dan menyalurkan bakat dengan benar, maka bakat di dalam diri kita bisa menjadi sandaran masa depan yang cukup mapan.
  2. Potensi tenaga . Dalam bidang pekerjaan apapun, selalu membutuhkan tenaga dan kekuatan fisik. Bahkan pada pekerjaan yang mengandalkan kekuatan pikiran seperti ilmuwan sekalipun, tetap memerlukan tenaga yang kuat. Tanpa fisik yang baik mustahil anda dapat bekerja dengan lancar. Tapi tentu saja ada beberapa pekerjaan atau profesi yang lebih banyak mengandalkan tenaga, atlit misalnya, entah itu atlit angkat besi, bulu tangkis, renang dan lain-lain
  3. Potensi wawasan. dimiliki oleh kita yang berwawasan dan berpengetahuan luas. Potensi ini dapat diasah dengan banyak membaca dan mengikuti perkembangan berita terkini baik dari dalam maupun luar negeri. Lalu bagaimana caranya menjual wawasan? Umumnya anda yang berwawasan luas, otak anda penuh ide-ide dan gagasan gemilang. Kita dapat mewujudkan ide-ide anda tersebut menjadi suatu pekerjaan yang menghasilkan. Contohnya Kita dapat menjadi pembicara pada seminar-seminar, Kita juga dapat menjadi penulis dan kolumnis dengan menuangkan segala ide dan wawasan anda.
  4. Potensi akademik Potensi akademik merupakan modal utama kita yang dapat kita jual sebagai sandaran masa depan anda. Misalnya, jika basic kita di bidang manajemen, kita dapat dapat menjual potensi akademik kita lewat kantor atau perusahaan yang membutuhkan kehalian manajamen . Jika anda seorang Insinyur Pertambangan, anda dapat menjual potensi anda di perusahaan pertambangan, kilang minyak, dan sejenisnya.

Sempurna jika kita memiliki ke empat potensi tersebut. Tapi jika kita hanya memiliki satu atau dua saja, tidak perlu kerkecil hati. Yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan potensi tersebut. Jika kita memiliki dua potensi, kita tinggal mengkombinasikannnya, menjadi suatu sinergi. Seorang sekretaris yang memiliki bakat menyanyi misalnya, bisa menjadi seorang sekretaris, sekaligus seorang penyanyi yang handal. Atau jika dalam keseharian kita adalah seorang dokter, tapi memiliki bakat bagus melukis, kita bisa menjadi seorang dokter hebat sekaligus menjadi pelukis yang profesional dan komersial.

Jadi, saatnya kita kenali dan gali potensi diri kita. Jangan pernah sia-siakan semua itu !!. Pelihara dan kembangkan potensi diri kita sebaik-baiknya.

Tipe Personality Dalam Kelompok

Interaksi individu dengan seseorang ataupun kelompok, berbeda satu dengan yang lainnya. Secara umum prilaku individu dalam kelompok bisa dipilah menjadi empat gaya.

NO

GAYA

KARAKTERISTIK

1

Pendukung (Contributor)

Orientasi pada tugas, senang memberikan data dan informasi tehnik

Mengerjakan tugas dengan baik

Mendorong tim untuk menetapkan standar kinerja tinggi

Menggunakan sumber daya organisasi dengan bijaksana

Umumnya dapat dipercaya

Umumnya bisa dipercaya, bertanggungjawab, terorganisir, efisien, logic, jelas, relevan, sitematis, cakap

Prilaku :

Bebas berbagi informasi dan pendapat dengan anggota

Nembantu tim menggunakan waktu dan sarana

Mendorong tim untuk menetapkan standar kerja tinggi

Mengerjakan dengan sempurna semua tugas

Menerima semua tanggung jawab

Mempu menetapkan prioritas dengan jelas

2

Kolaborator (Collabolator )

Selalu ingin mencapai tujuan, visi dan misi

Fleksibel dan terbuka terhadap ide-ide baru

Bersedia melakukan tindakan meskipun di luar tugas dan tanggung jawabnya

Berbagi rasa dan berpandangan luas

Suka bekerjasama, flesibel, percaya diri, lehiat ke depan, murah hati, imaginative

Perilaku :

Membantu tim menentukan tujuan jangka panjang, jangka pendek

Memahami bagaimana kerja tim

Selalu emngingkatkan tim untuk mengevaluasai relevansi tujuan dan kegiatan

Bekerja keras mencapai tujuan maupun tidak setuju

Terbuka terhadao ude-ide baru.

Seringkali senang mengerjakan tugas yang bukan tugasnya

Berbagi informasi dengan anggota tim yang lainnya

3

Komunikator

( Communicator)

Berorientasi pada proses, mampu menjadi pendengar yang baik, fasilitator dalam menghadapi konflik, mengembangkan konsesus, memberikan umpan balik.

Mengembangkan iklim informal dan santaoi, berpandangan positif

Suportif, menumbughkan semangat, santai, taktis, senang membantu, bersahabat, sabar, informal, penuh perhatian, spontan.

Perilaku :

Bersedia menjadi penangah jika terjadi konflik.

Perndengar yang baik dan tidak cepat mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan berbagai pandangan.

Membantu tim untuk santai dan tidak segan memberikan pujian kepada anggota tim

Antusias mengkomunikasikan pentingnya kerja tim

Mendorong tercapainya konsesus dan anggota tim berperan aktif.

Memberikan feedback yang baik kepada semua anggota

Mengingatkan tim akan pentingnya manajemen wakti efektif

4

Penantang

(Chalenger)

Sering mengajukan pertanyaan

Bersedia bahkan suka berbeda pendapat dengan anggota bahkan atasan.

Mendorong tim berani mengambil resiko.

Terus terang, etis, senang bertanya, jujur, berani, apa adanya, punya prinsip, tetapi sering kontra dengan tim

Perilaku :

Tidak ragu bahkan berani berbeda pendapat

Banyak bertanya meski resikonya tidak disukai tim

Bersedia memberikan peringatan jika tim bertindak illegal atau tidak etis.